Feeds:
Pos
Komentar

SELAMAT DATANG

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarrakaatuh…
Selamat datang di www.aga152aulia.wordpress.com, sebuah blog sederhana seorang tenaga penunjang kesehatan.

Saya dan Radiologi

Dalam blog ini saya sediakan berbagai informasi kesehatan, terutama tentang Intermediate Medical Imaging. saya harap tulisan saya dapat memberikan informasi yang bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan bagi para pembacanya. Dalam blog ini juga saya selingi dengan curahan hati saya yang terdalam, maaf saja kalau saat membaca ada sedikit selingan dari curahan hati saya, hehehe.

 

Saya Dan Radiologi 1

Saya Dan Radiologi 1

Oh, ya, beberapa tulisan juga saya dapat dari media massa, majalah maupun berbagai media informasi kesehatan lainnya, dan saya cantumkan sumbernya. Mohon maaf bila ada yang mirip-mirip namun tidak saya sertakan sumbernya, dikarenakan saya lupa atau pernah melihat tapi tidak ingat… hehehehe.

Saya Dan Radiologi 2

Saya Dan Radiologi 2

Selamat Membaca…..

Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakaatuh…..

Meskipun teknologi Digital  sudah digunakan bertahun-tahun dalam aplikasi fluoroscopy digital dan Computed Tommography, perkembangan aplikasi teknologi digital untuk general Radiography masih cenderung baru. Masing-masing dari sistem didiskripsikan mulai dari proses pencitraan dengan menggunakan Sinar-X yang ditangkap dan kemudian dikonversi menjadi sinyal digital.

Sistem Pencitraan Digital

Ada beberapa akronim yang berhubungan dengan pencitraan digital menimbulkan miskonsepsi yang cukup banyak terkait dengan sistem pencitraan Digital, dan miskonsepsi ini menimbulkan radiografer tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang bagaimana berbagai sistem pencitraan bekerja. Tanpa memperhatikan tampilan dan bagaimana data citra ditangkap dan dihasilkan, setiap sistem pencitraan yang dihasilkan memiliki rentang dinamik yang cukup lebar yang membutuhkan sebuah definisi latitude eksposi untuk memungkinkan radiografer dapat menerapkan prinsip ALARA.

Photostimulable Storage Phosphor (PSP) Plate

Figure-8-Schematic-diagram-of-a-line-scan-PSP-system-top-showing-the-general

Teknologi PSP merupakan implementasi sistem pencitraan digital yang cukup luas digunakan untuk pemeriksaan radiografi general. Teknologi ini paling sering disebut dengan Computed Radiography (CR). Meskpiun begitu, sistem pencitraan ini menggunakan penyimpanan berbasis fosfor (PSP). Sebuah sistem berbasis PSP menggunakan penyimpanan plat fosfor yang berfungsi untuk menangkap dan menyimpan berkas Sinar-X yang melewati pasien. Eksposi terhadap plate dengan menggunakan radiasi menghasilkan perpindahan elektron-elektron ke arah jebakan elektron yang menggunakan material fosfor. Semakin tinggi eksposi yang dilakukan kepada plate, maka akan semakin besar pula jumlah dari elektron yang berindah ke arah jebakan elektron. Plate yang yang tereksposi mengandung gambar laten yang akan diteruskan proses pembacaan yang akan dilakukan setelah proses eksposi selesai.

Proses pembacaan plate merupakan proses scanning ke seluruh permukaan plate dari sisi ke sisi dengan menggunakan berkas sinar Laser. Seiring dengan pergerakan laser ke seluruh permukaan plate, elktron-elektron yang terjebak akan terlepas dari jebakan elektron dan berpindah menuju ke tempat asalnya. Perpindahan elektron-elektron yang kembali ke tempat asalnya menghasilkan emisi cahaya dari fosfor. Semakin tinggi eksposi terhadap plate, maka intensitas cahaya yang diemisikan dari plate juga akan semakin tinggi saat proses scanning berlangsung. Cahaya yang diemisikan akan dikumpulkan oleh sistem optik yang akan mengirim cahaya ke sebuah alat yang memiliki kemampuan untuk mengkonversi cahaya menjadi sebuah sinyal analog. Alat ini disebut dengan photomultiplier Tube atau CCD. Sinyal listrik analog kemudian dikirim ke Analog to Digital Converter (ADC) sehingga data citra akan diproses komputer untuk menghasilkan sebuah citra digital. Bergantung masing-masing pabrikan, citra yang terbentuk dapat ditampilkan pada workstation 5 detik setelah dilakukan proses reading. Setelah proses reading, plat PSP dieksposi oleh cahaya terang, sehingga gambar laten terhapus dari plate dan plate siap digunakan untuk eksposi pada pemeriksaan berikutnya.

Sistem digital imaging berbasis PSP ada yang berbasis kaset atau Cassete Less. Sistem berbasis kaset memungkinkan Radiografer untuk menempatkan Image Receptor secara fisik pada beberapa lokasi. Sedangkan untuk sistem cassette less berupa alat yang lebih besar dan terbungkus dengan Image Receptor (IR). Sistem Cassete-Less memiliki keterbatasan jumlah pergerakan untuk menyejajarkan dengan berkas Sinar-X dan struktur anatomi.

Aplikasi Penggunaan Sistemn PSP Digital

Teknologi apapun yang digunakan untuk akuisisi citra tidak ada masalah, yang terpenting adalah posisioning yang akurat dan perhatian terhadap teknik pemeriksaan terhadap pasien. Meski begitu, ketika teknologi digital digunakan, perhatian terhadap detai sistem ini menjadi penting karena beberapa faktor, antara lain :

  1. Kolimasi

Dalam tujuan untuk mengurangi dosis radiasi, Kolimasi merupakan bagian yang paling bagian yang berperan untuk menghasilkan citra yang optimal. Software memproses lapangan penyinaran sebagai data set, segala macam atenuasi laten dari berkas Sinar-X akan termasuk dalam penghitungan tingkat brightness, contrast dan indikator eksposi. Jika kolimasi sangat dibatasi, indikator eksposi dpat mengalami kesalahan representasi dan citra kemungkinan akan memiliki kontras yang rendah

  1. Akurasi dalam memusatkan anatomi dan CR

Karena dalam cara mengekstrak data dilakukan analisa, bagian tubuh dan area kolimasi penyinaran harus dipusatkan pada Image Receptor untuk meyakinkan bahwa citra terdisplay dengan baik. Kesalahan untuk menyejajarkan bagian tubuh pada image receptor dan kesalahan pada akurasi kolimasi akan mengakibatkan kualitas image display yang buruk.

  1. Penggunaan plat Pb (Timbal)

Menggunakan plat timbal untuk lebih dari satu pencitraan dengan menggunakan sebuah image receptor direkomendasikan ketika Sistem PSP berbasis kaset digunakan. Rekomendasi ini dikarenakan PSP memiliki sifat sensitivitas yang tinggi pada energi rendah pada radiasi hambur, sedikit saja radiasi berenergi rendah dapat mempengaruhi kualitas citra. Beberapa pabrikan merekomendasikan bahwa satu Image Receptor digunakan untuk satu kali pengambilan citra.

  1. Penggunaan Grid

Penggunaan grid untuk bagian tubuh yang memiliki ketebalan lebih dari 10 cm merupakan hal yang penting ketika sebuah pencitraan diambil dengan menggunakan Image Receptor berbasis PSP, hal ini dikarenakan sensitivitas yang tinggi pada fosfor terhadap radiasi hambur.

  1. Faktor Eksposi

Karena memiliki rentang dinamik yang lebar, Image Receptor berbasis PSP memiliki kemampuan untuk menampilkan citra dari rentang faktor eksposi yang luas (kC, mAs). Hal ini penting untuk diingat, walau bagaimanapun prinsip ALARA (Exposure to Patient As Low As Reasonably achieveble) harus tetap diterapkan, dan faktor eksposi terendah untuk menghasilkan citra diagnostik yang optimal harus diterapkan. Ketika sebuah citra mampu untuk diamati, adiografer harus memeriksa faktor-faktor indikator untuk memastikan bahwa faktor eksposi yang digunakan konsisten dengan prinsip ALARA dan kualitas citra diagnostik. Meningkatkan kV dengan rentang 5 hingga 10, juga dengan menurunkan mAs dengan rasio equivalen dengan pesawat digital imaging, dapat menjada kualitas dengan mengurangi ESE (Entrance Skin Exposure) secara signifikan pada pasien.

Daftar Pustaka

Bontrager, Kenneth. L, 2010, Text Book Of Radiographic Positioning And Related Anatomy, Fifth Edition, The Mosby, St. Louis

Pada saat istirahat, myosit terpolarisasi dan bagian dalam dari sel-sel akan memiliki muatan listrik negatif. Sedangkan ketika sel-sel myosit mengalami depolarisasi, maka bagian dalam sel akan memiliki muatan listrik positif.
Ketika sebuah impuls listrik dihasilkan, potassium akan segera keluar dari myosit dan Sodium akan segera masuk ke dalam myosit. Kalsium juga akan masuk ke dalam sel pada tahap ini, namun dengan kecepatan yang perlahan dan kalsium ini juga berperan sebagai regulator dari kontraksi jantung. Hal ini kemudian memicu depolarisasi dan mengkonversi muatan listrik dari sel menjadi bermuatan positif. Depolarisasi berperan sebagai panjang gelombang dari myocardium dan menghasilkan kontraksi jantung. Sedangkan Repolarisasi adalah kembalinya sel dalam kondisi istirahat.
Sistem konduksi dari jantung memiliki sel-sel myocardial yang memiliki kemampuan otomatisasi, konduktivits, eksitabilitas, dan kontraksilitas. Titik Sinoatrial berada pada bagian atas posterior pada dinding atrium kanan, lokasi ini dominan untuk meletakkan pacemaker jantung. Pada saat istirahat dalam kondisi normal, titik Sinoatrial menghasilkan 60-100 impuls per menit. Sinoatrial bertanggung jawab atas ritme dari siklus jantung atau otomatisasi.

Elektrofisiologi dan Siklus Jantung
Siklus Depolarisasi-Repolarisasi terjadi dalam lima fase yang dapat terlihat pada monitor ECG. Ketika aktivitas listrik dari jantung adalah normal, hal ini dapat disebut sebagai “Ritme Sinus Normal.” Gelombang P mencatat kontraksi dari Atria (Depolarisasi Atrial). Sedangkan QRS merupakan catatan kontrkasi kompleks dari ventrikel, berikutnya segment ST (Membran sel netral dari muatan listrik). Gelombang A U mengikuti gelombang T dan terhubung dengan repolarisasi dari Purkinje Fibers.

ECG 1

Penempatan Elektroda
Ada beberapa metode dari penempatan elektroda untuk melakukan monitoring aktivitas elektrik dari jantung. Radiografer biasanya jarang sekali dipanggil dalam keperluan memasang elektroda untuk ECG dengan 12 elektroda. Perpindahan dalam pemasangan elektroda tidak akan mengubah aktivitas elektrik jantung, namun hal ini akan mengubah sudut dari aktivitas mana yang dicatan Ketika gelombang depolarisasi dipindah ke elektroda positif, maka defleksi pada ECG akan naik.
Dua elektroda sering digunakan untuk monitoring kontinyu dan ditempatkan pada daerah subclaviar dan garis midclavicular. Sedangkan untuk tiga elektroda (ground elektroda) maka dapat diposisikan dimana saja pada daerah atas anterior dari dada.

ECG 2

Persiapan pasien untuk dilakukan monitoring jantung adalah sebagai berikut :

  1. Datang kepada pasien, jelaskan prosedur dan sediakan privasi
  2. Informasikan kepada pasien bahwa monitor tidak digunakan untuk mendeteksi nyeri dada atau dyspnea dan apabila tanda-tanda ini terjadi, pasien harus segera menginformasikan kepada seseorang yang merawatnya. Informasikan juga kepada pasien bahwa tidak akan merasakan adanya setruman arus listrik selama kabel terpasang, dan pemasangan kabel memang sebuah keharusan pada monitoring dengan menggunakan ECG.
  3. Dimanapun elektroda akan ditempatkan, kulit pasien harus disiapkan dengan membersihkan kotoran dan minyak dengan menggunakan sabun dan air, atau alkohol. Rambut di sekitar area pemasangan juga terkadang perlu dicukur sesuai dengan permintaan dokter untuk mengurangi resistansi kulit.
  4. Tempatkan elektroda pada area yang datar dari tubuh pasien. Elektroda digunakan untuk monitoring kontinyu biasanya memiliki pelumas pada kemasan awal sebelum dibuka. Apabila elektroda tidak memiliki pelumas pada kemasan, maka pasta elektrokonduktif harus digunakan sebelum elektroda dipasang. Elektroda bersifat lengket dan akan ditempatkan kembali pada tempat yang datar.

Ketika semua elektroda terpasang, sebuah alarm diatur pada mesin ECG untuk 30% di atas dan 30% di bawah baseline heart rate pasien. Kemudian monitor dan elektrokardiograf diaktifkan. Segala bentuk deviasi dari pengaturan yang telah dilakukan akan mengaktifkan alarm.Responsibilitas Radiografer ketika Montoring ECG
Radiografer sebaiknya mengetahui ritme sinus normal pada pembacaan ECG. Disritme cardiac akan mempengaruhi kemampuan jantung untuk memompa dan menyuplai darah ke seluruh tubuh. ECG digunakan untuk mendeteksi disritme cardiac, kelainan konduksi, myocardial ischemia, adanya luka dan penyumbatan pada jantung.
Penyimpangan dari ritme sinus yang normal dapat mengindikasikan kondisi emergency. Radiografer bisa jadi merupakan orang pertama yang mungkin melihat perubahan pada pembacaan ECG seorang pasien di rumah sakit. Apabila kasus seperti ini terjadi, maka petugas harus melakukan observasi terhadap kondisi pasien dan melaporkan gejala yang terjadi kepada perawat atau petugas penanggungjawab pasien.

Tanda dan Gejala yang harus dilaporkan antara lain :
Gelisah
• Nyeri Dada
• Perubahan tingkat kesadaran
• Peningkatan ritme jantung dan pernapasan
• Dingin, kulit pucat dan lembab
• Nafas yang pendek
• Sulit bernafas dan mual

\Respon Radiografer Sebaiknya :
• Menenangkan pasien dan memberikan dukungan secara psikologis
• Memeriksa tanda-tanda vital pasien
• Mengangkat kepala pasien
• Menyiapkan tabung oksigen
• Menyiapkan segala alat medis untuk keperluan memasukkan obat secara intravena
• Menyiapkan panggilan kode kedaruratan

 

Daftar Pustaka

Torres, Lilian S., 2010, Basic Medical Techniques and Patient Care in Imaging Technology, Fifth Edition, Lippincott, Philadelphia: New York

Pada pertengahan tahun 1880-am, telah ditemukan bahwa aktivitas elektrik jantung dapat diukur secara eksternal dengan menempatkan sebuah elektroda pada kulit seseorang. Pada tahun 1901 DR.Wilem Einthoven  meningkatkan penelitian awal ini dan merancang sebuah alat yang mengukur aktivitas elektrik jantung dengan sebuah catatan waktu. Ia memberikan nama gelombang pengukuran atau pergerakan ritmik P, QRS, dan T dan memberikan nama jiplakan dari pegerakan ini Elektrokardiogram. Dalam beberapa waktu kemudian, istilah tersebut disingkat menjadi EKG. Dalam Bahasa Inggris, kita mengeja Cardiogram, dengan huruf C merupakan pengukuran dari aktivitas elektrik jantung, yang kemudian kemudian disebut dengan ECG. Biasanya dalam praktek sehari-hari, yang digunakan adalah istilah ECG, meskipun begitu, ECG dan EKG adalah sama.

Radiografer akan terlibat dalam beberapa prosedur pemeriksaan yang membutuhkan monitor cardiac secara kontinu. Pada beberapa institusi, Radiografer harus telibat dalam mempersiapkan pasien untuk monitoring cardiac. Dengan kata lain, dirinya dapat mengobservasi secara sederhana keadaan pasien yang dilakukan monitoring dan memperlihatkan tanda-tanda vital ECG yang dapat terlihat pada layar dari sebuah Oscilloscope.

Sebuah ECG merekam aktivitas elektrik dari jantung,  dengan demikian ECG dapat menyediakan sebuah catatan aktivitas elektrik dari jantung dan informasi yang berkaitan dengan fungsi dan struktur jantung.Ketika jantung dilakukan monitor, hasil dari aktivitas jantung akan tercatat pada laporan dari alat ECG yang memiliki sensitivitas terhadap aktivitas elektrik dan akan tercetak dalam kertas atau ditampilkan pada layar pada sebuah oscilloscope.Hasil laporan ini akan digunakan untuk mendeteksi transmisi abnormal dari impuls cardiac yang didapatkan dari jaringan di sekitar permukaan kulit. Ketika impuls mecapai kulit pasien, elektroda yang telah diletakkan pada posisi anatomi standar akan mentransmisikan impuls tersebut ke alat ECG dan impuls akan dicatat pada sebuah grafik.

Pembacaan ECG yang tidak normal belum tentu menandakan adanya indikasi penyakit pada jantung.  Sebaliknya, sebuah bacaan ECG yang normal juga tidak selalu menunjukkan indikasi bahwa kondisi jantung adalah normal.ECG tidak dapat mendeteksi semua patologi atau penyakit pada kondisi cardiac.

Ada beberapa tipe dalam melakukan test ECG. Ada yang membutuhkan elektroda yang harus ditempatkan pada beberapa daerah di luar tubuh pasien. Seorang Radiografer harus mempelajari subjek atau tempat dimana harus mempelajari secara detail dalam hal ini dan perlu mendaftarkan diri pada kursus atau kelas khusus yang termasuk praktek klinik untuk membaca sebuah ritme ECG. Memonitor pasien secara kontinu dengan pasien yang terhubung pada sebuah oscilloscope, merupakan tipe yang biasa ditemui oleh seorang Radiografer. Tekanan darah, penilaian respirator atau pernafasan, dan saturasi oksigen juga merupakan monitor lanjutan dan biasa ditampilkan pada sebuah layar oscilloscope. Apabila penilaian dari ritme jantung pasien,  atau terdapat penyimpangan dari tanda-tanda vital tubuh pasien dari ritme atau kondisi normal maka akan ada suara alarm yang berbunyi untuk memperingatkan tim medis untuk pasien tersebut. Apabila alarm peringatan berbunyi, hal ini berarti telah terjadi masalah pada “Penyokong Kehidupan” pasien telah terdeteksi secara cepat. Hasil print out dari ECG dibuat pada waktu spesifik catatan pasien untuk dikomparasikan pada hasil pencatatan sebelumnya. Radiografer harus dapat mengetahui kondisi tanda-tanda vital pasien dan tanda-tanda lain yang terlihat pada pasien agar dapat segera terhindar dari situasi darurat apabila diketahui dengan cepat masalah yang terjadi pada pasien tersebut.

Review Anatomi dari Jantung

anatomy-of-heart-interior-frontal-stocktrek-images

Gambar Anatomi Jantung, Sumber : http://www.ina-ecg.com

Jantung merupakan otot seukuran kepalan tangan yang berada pada sisi kiri dari tubuh dan terletak diantara paru-paru dan mediastinum. Jantung merupakan dua pompa. Fungsi jantung adalah untuk memompa darah yang tidak menganduk oksigen dari jantung ke paru-paru untuk mendapatkan oksigendan kemudian memompa darah yang mengandung oksigen dari dalam jantung ke aorta dan kemudian disebarkan ke seluruh tubuh. Mahasiswa akan mengatakan bahwa jantung memiliki empat ruang, yaitu atrium kanan, atrium kiri, ventrikel kanan dan ventrikel kiri. Apex dari jantung merupakan aspek paling rendah atau terbawah dari organ jantung itu sendiri, dan dasar (base) dari jantung adalah aspek atas dari oragn tersebut. Ventrikel kanan dan kiri dari jantung dipisahkan oleh sebuah septum interventrikular.  Ruang dari jantung dilindungi agar tidak kembalinya aliran darah yang sudah terpompa dari satu ruang ke ruang berikutnya oleh sebuah katup. Dinding dari atrium dan ventrikel terdiri dari 3 lapisan, Epicardium (Lapisan tipis terluar), Myocardium (Lapisan tipis tengah) dan endocardium (Lapisan tipis dalam). Lapisan otot dari atrium lebih tipis dari lapisan otot pada ventrikel.

 

Aliran darah dimulai dari jantung :

fisiologijantungmanusia

Gambar aliran darah dari dan menuju jantung, sumber :www.penyakitjantungkoroner.net

  1. Darah yang tidak mengandung oksigen mengalir ke atrium kanan dari vena cava inferior dan vena cava superior dan vena yang menuju jantung
  2. Darah ini kemudian dipompa melalui katup triskupidalis untuk menuju ke ventrikel kanan.
  3. Kontraksi dari ventrikel kanan mengirim darah yang tidak mengandung oksigen melalui katup semulinar (pulmonic) menuju paru-paru untuk mendapatkan oksigen melalui arteri pulmonary.
  4. Darah yang sudah mengandung oksigen kemudian dialirkan melalu vena pulmonary ke atrium kiri.
  5. Kontraksi dari atrium kiri memompa darah dari atrium kiri melalui katup mitral (Biscupidalis) menuju ventrikel kiri.
  6. Ventrikel kiri kemudian berkontraksi dan darah yang mengandung oksigen dipompa menuju aorta dan kemudian di alirkan ke seluruh tubuh.

Myocardium (Otot jantung) menyuplai darah yang mengandung oksigen via arteri koroner kanan da kiri dan cabang-cabangnya. Cabang-cabang dari arteri koroner kiri (Left Artery Coronary/LCA) menyuplai septum interventricular, dinding dan permukaan dari atrium dan ventrikeldan Sinoatrial (SA) dan Atrioventrucular (AV). Arteri koroner kanan (Right Coronary Artery/RCA)menyuplai sisa dari suplai darah myocardial.

Sistem Konduksi Cardiac

Alat ECG melaporkan aktivitas elektrik dari jantung, terutama kontraksi dari myocardium. ECG juga memberikan informasi yang berkaitan dengan penilaian ritme jantung. Stimulasi elektrik menghasilkan kontraksi dari jantung. Sel-sel dari dari otot jantung (myocytes) dipengaruhi oelh sodium, kalsium dan ion-ion potassium.

#Bersambung

Daftar Pustaka

Torres, Lilian S., 2010, Basic Medical Techniques and Patient Care in Imaging Technology, Fifth Edition, Lippincott, Philadelphia: New York

 

 

Apabila pasien harus dipindahkan dari brancard ke meja pemeriksaan atau sebaliknya, pasien harus dibantu oleh petugas. Radiografer jangan pernah mengizinkan pasien turun sendiri dari meja pemeriksaan ke kursi roda tanpa bantuan. Pasien seringkali tidak sekuat apa yang dia rasakan. Gerakan tiba-tiba dapat menyebabkan kepeningan dan pasien mungkin akan jatuh.

Jika pasie pada posisi supine, kemudian akan dibantu untuk posisi duduk, Radiografer harus memposisikan pasien miring ke arahnya, dengan lutut flexi, Radiografer kemudian menempatkan di depan pasien dengan salah satu lengan berada pada bawah bahu dan lengan lainnya persis pada lutut.

  1. Jika pasien kooperatif, instruksikan untuk mendorong ke atas dengan lengan atas dan diberi aba-aba untuk melakukannya.
  2. Kemudian, hitung sampai tiga, pindah pasien atau bantu pasien untuk pindah pada posisi duduk di meja pemeriksaan. Sebelum membantu pasien untuk berdiri, beri kesempatan untuk duduk sejenak dan untuk mendapatkan kembali keseimbangannya, berdiri di depannya dan letakkan lengannya tepat pada bahu. Jika pasien membutuhkan bantuan kekuatan untuk berdiri, tempatkan lutut di sekeliling lutut pasien.
  3. Bantu pasien untuk berdiri dan berputar, kemudian tuntun untuk duduk pelan-pelan ke kursi, bungkukkan kedua lutut dan jaga agar punggung kita tetap pada posisi tegak. Jika pasien hanya membutuhkan sedikit bantuan, kita cukup berdiri di sampingnya dan raih lengannya untuk membantunya turun dari meja pemeriksaan.
  4. Apabila meja pemeriksaan cukup tinggi, maka kita jangan pernah mengizinkan pasien untuk turun tanpa bantuan atau tanpa menggunakan tangga yang berfungsi untuk nai-turun meja pemeriksaan. Selalu berada di samping pasien untuk membantunya.
  5. Kursi roda harus berada sedekat mungkin , sehingga pasien dapat didudukkan di kursi hanya dengan satu putaran saja, naikkan sandaran kaki pada akusi roda dan pastikan roda telah terkunci.
  6. Berdiri di depan pasien, lebarkan tungkainya untuk meluaskan bidang sandaran, fleksikan kedua lututnya, bantu pasien dari sisi samping, kemudian berputar bersama pasien dan dudukkan di kursi
  7. Turunkan sandaran kaki kursi roda dan lepaskan pengunci roda. Sabuk pengaman juga harus terpasang, terutama pada pasien yang lemah atau lemas
  8. Meja pemeriksaan Telescoping harus ditempatkan pada posisi terendah saat pasien dipindahkan dari dan ke meja pemeriksaan.

tranfer kursi roda

Pasien harus tetap dijaga secara tertutup, sebisa mungkin saat dipindahkan atau ditransfer. Jangan pernah mentransfer pasien menggunakan kursi roda tanpa diselimuti. Ketika pasien ditempatkan di meja pemeriksaan, pasien juga harus diselimuti, jangan sampai merasa kedinginan.

Seorang pasien yang menerima pengobatan harcotic, hypnotic atau pengobatan pychoactive lainnya, pasien dengan keadaan bingung, disorientasi, penurunan kesadaran, pasien dengan luka di kepala atau pasien anak-anak harus selalu diawasi dan jangan pernah ditinggalkan sendiri di atas meja pemeriksaan. Jika kebiasaan pasien tidak dapat diprediksi atau jika pasien sedang duduk di kursi roda, harus diawasi secara hti0hati, pastikan pula sabuk pengaman harus terpasang di kursi roda.

Daftar Pustaka

Torres, Lilian S., 2010, Basic Medical Techniques and Patient Care in Imaging Technology, Fifth Edition, Lippincott, Philadelphia: New York

Saya dan Radiologi

Radiografer seringkali dipanggil untuk ikut membantu memindahkan pasien dari ruang perawatan ke Instalasi Radiologi. Sesekali Radiografer mungkin menjadi seseorang yang ditunjuk untuk menginstruksikan porter agar dapat mentransfer pasien dengan benar.

Seperti apapun kasusnya, beberapa tindakan pencegahan resiko jatuh terhadap pasien harus dilakukan terhadap pasien, ketika pasien dipindahkan dari ruang perawatan menuju ke Instalasi Radiologi. Seringkali Radiografer di rumah sakit mengabaikan hal ini, padahal resiko jatuh terhadap pasien rentan terjadi, ketika transfer pasien, terutama pasien yang non kooperatif.

Berikut beberapa langkah yang harus diperhatikan untuk memindahkan dan mentransfer pasien dengan aman bagi Radiografer :

  1. Memastikan identitas yang benar terhadap pasien. Kita mungkin dapat lebih memastikan dengan pergi ke nurse station pada unit keperawatan pasien, perkenalkan diri kita atau sebutkan nama dan tempat tugas kita, lalu berikan nama pasien dan tuliskan prosedur pemeriksaan apa saja yang akan didapatkan pasien, namun biasanya setiap rumah sakit memiliki standar prosedur keperawatan agar perawat sendiri yang mengantar pasien, untuk mencegah terjadinya kekeliruan dan mempercepat pelayanan diagnostic terhadap pasien. Apabila pasien tepat, maka, pelayanan yang diberikan juga pasti tepat.
  2. Tanyakan informasi yang berkaitan dengan kemampuan pasien untuk dapat koperatif secara fisik mengikuti instruksi radiographer dalam proses pemeriksaan.

Catatan : Beberapa prosedur pemeriksaan radiografi membutuhkan posisi dan gerakan pasien dan biasanya gerakan pasien cukup terbatas. Kita harus mendapatkan informasi terkait kondisi pasien dan megetahui tentang pengobatan yang diterima pasien selama 2 jam sebelumnya, sehingga dapat mencegah pasien dari persetujuan dengan mengikuti prosedur pemeriksaan tanpa perhatian khusus.

  1. Mintalah informasi yang berkaitan dengan kemampuan pasien untuk dapat berjalan dan berbagai larangan mobilitas pasien.

Catatan : Jika psien memiliki lrangan dalam hal pergerakan atau pemberian beban, kita harus tahu, sehingga kita tidak melanggar larangan-larangan tersebut, sehingga beresiko melukai pasien. Jika kita membutuhkan bantuan saat memindahkan passion dari kursi roda ke bed, atau sebaliknya, mintalah saat itu juga seorang radiographer atau seorang porter, jangan sekali-kali memindahkan pasien dari bed kea lat transfer atau sebaliknya tanpa bantuan. Seorang pasien jangan pernah diizinkan untuk dipindahkan dari dank e kursi roda tanpa bantuan.

  1. Memindahkan pasien ke instalasi dengan menuruti atau mematuhi berbagai larangan, sebelumnya ucapkan salam kepada pasien, identifikasi identitasnya dan berikan penjelasan seperti tentang pemeriksaan apa yang akan dilakukan.

Catatan : Pasien harus selalu menjadi bagian dari proses perencanaan dan diberikan keleluasaan untuk menolak perlakuan atau prosedur yang tepat. Pasien di rumah sakit menggunakan label identifikasi, warna pada gelang menunjukkan jenis kelamin dan kondisi pasien, biru untuk pasien laki-laki, merah muda untuk pasien perempuan, kuning untuk pasien yang rawan jatuh, merah untuk pasien yang memiliki resiko alergi pada obat-obatan tertentu. Pada gelang pasien tertuliskan nama lengkap dan tanggal lahir pasien. Oleh karena itu, setiap kali melakukan akan melakukan pemeriksaan, tanyakan nama lengkapnya, tanggal lahirnya dan cocokkan pada gelang yang dipakai.

Ketika pemeriksaan telah selesai, kembalikan pasien ke ruang perawatan dengan prosedur :

  1. Berhenti tepat di nurse station, kembalikan status pasien akan dikembalikan ke ruang perawatannya jika kita membutuhkan bantuan, mintalah saat itu juga.

Catatan : Apabila petugas tidak diinformasikan tentang pengembalian pasien, maka petugas tidak tahu jika pasien telah kembali dan mungkin tindakan keperawatan selanjutnya terhadap pasien akan terlewatkan.

  1. Kembalikan pasien ke ruangan dan bantu hingga berpindah ke tempat tidur, buat agar pasien tetap nyaman dan aman.

Catatan : Jangan pernah izinkan pasien untuk pindah dari kursi roda tanpa bantuan, atur bed pasien pada posisi yang dekat dengan lantai, dengan sisi pegangan mudah teraih dan dekatkan tombol “call” atau bantuan agar mudah teraih ketika pasien membutuhkan bantuan.

Daftar Pustaka

Torres, Lilian S., 2010, Basic Medical Techniques and Patient Care in Imaging Technology, Fifth Edition, Lippincott, Philadelphia: New York

Penatalaksanaan pemeriksaan Radiografi rongga dada atau Thorax untuk seluruh pasien harus dilakukan dengan posisi tegak jika kondisi pasien memungkinkan. Mengapa? Ada tiga alasannya, antara lain :

Thprax Inspirasi Full (bontrager, 2003)

Thorax Inspirasi Full (bontrager, 2003)

  1. Agar diafragma dapat bergerak ke bawah secara maksimal. Posisi pasien yang tegak akan menyebabkan liver dan organ-organ dalam rongga abdomen bergerak turun sehingga memungkinkan diafragma bergerak turun pada saat inspirasi maksimal, sehingga memungkinkan paru-paru terisi udara secara penuh.

 

  1. Untuk menunjukkan batas ketinggian antara cairan dan udara apabila dicurigai adanya cairan di daerah paru. Adanya cairan dan udara di dalam paru atau cavum pleura, seperti cairan kental sebagai contoh darah atau cairan pada cavum pleura biasanya diakibatkan oleh infeksi atau trauma. Cairan tersebut akan tertarik gravitasi dan bergerak ke posisi terendah ketika volume udara meningkat. Pada posisi pasien yang berbaring, efusi pleura akan terseebar ke seluruh permukaan posterior paru, menghasilkan gambaran kesuraman pada keseluruhan paru. Sedangkan pada posisi tegak, akan ditunjukkan bahwa cairan berada di bawah rongga paru atau thorax dari pasien.
Thorax Erect vs Supine, Bontrager, 2003

Thorax Erect vs Supine, Bontrager, 2003

 

  1. Untuk mencegah Engorgement dan Hyperemia pada pembuluh darah paru. Engorgement, merupakan penggelembungan atau pembengkakan akibat penumpukan cairan. Hyperemia merupakan sebuah kondisi kelebihan darah pada sebagian organ sebagai akibat dari relaksasi pada bagian distal dari pembuluh darah kecil atau arteriol.

Posisi tegak dilakukan untuk meminimalisir Engorgemen dan Hyperemia pada pembuluh darah pulmonaris yang apabila dilakukan pemeriksaan dengan posisi berbaring hanya akan meningkatkan resiko terjadinya dua hal tersebut di atas, dan dapat menyebabkan gangguan penilaian secara Radiografi pada gambara pembuluh darah serta gambaran paru pada umumnya.

Posisi pemeriksaan paru yang baik adalah Postero Anterior dengan Source Image Distance (SID) yang digunakan pada pemeriksaan paru adalah sejauh 72” atau 180 cm. Pemeriksaan paru jika dilakukan dengan proyeksi Antero Posterior akan menyebabkan peningkatan magnifikasi terhadap bayangan jantung, yang akan dapat menyebabkan kekeliruan penilaian diagnosis berupa adanya pembesaran jantung. Alasannya adalah jantung berada pada daerah anterior dalam mediastinum. Menempatkan jantung lebih dekat terhadap Image Receptor pada proyeksi Postero Anterior akan menurunkan nilai magnifikasi. Penggunaan SID yang panjang seperti 72” (180 cm) akan menurunkan nilai magnifikasi karena penurunan divergensi berkas utama Sinar-X.

Daftar Pustaka

Bontrager, Kenneth. L, 2003, Text Book Of Radiographic Positioning And Related Anatomy, Fifth Edition, The Mosby, St. Louis

PROTEKSI RADIASI (Bagian 2)

Oleh : Richard Geise, Ph.D.

Diterjemahkan dan ditulis kembali secara ringkas oleh : Aga Aulia Putra

DOSIS PASIEN

Pada Prosedur Pemeriksaan Secara Umum (Radiografi Konvensional)

Fakta-fakta pada pemeriksaan yang menggunakan Sinar-X menunjukkan adanya kemungkinan pemberian dosis yang berbeda terhadap pasien. Jumlah yang paling sering diukur adalah eksposi terhadap daerah kulit, daerah dimana radiasi membentur tubuh pasien untuk pertama kali, jumlah radiasi ini sering disebut dengan SEE (Skin Entrance Exposure).

Eksposi ini memberikan gambaran jumlah dosis kulit yang telah diterima pasien. Dosis kulit memiliki nilai numerik tertinggi diantara jenis dosis radiasi lainnya, namun di dalam dunia Radiografi, dosis kulit memiliki efek biologi yang paling rendah.

Ketika radiasi melewati tubuh pasien menuju Image Receptor, intensitasnya menurun sebanyak ratusan kali lipat. Pengukuran rata-rata jumlah dosis pada organ-organ spesifik digunakan untuk memperhitungkan kemungkinan organ-organ tersebut beresiko terkena kanker akibat efek dari radiasi.

Dosis Efektif (ED) yang terkadang hanya disebut dengan E digunakan untuk mengukur dosis pada keseluruhan organ dan resiko yang dapat timbul atau faktor bobot yang dapat menyebabkan terjadinya kanker (dalam kasus yang terjadi pada Gonad, dapat menimbulkan resiko kerusakan genetik). Dosis efektif merupakan jumlah dosis yang digunakan untuk membandingkan dosis radiasi rata-rata yang diterima keseluruhan tubuh manusia, yakni antara dosis yang diterima akibat prosedur pemeriksaan Radiologi dengan dosis yang diterima akibat radiasi alam.

Dosis pasien yang ada di bawah ini menunjukkan Skin Entrance Exposure, dosis untuk organ spesifik dan dosis efektif untuk pasien dengan ukuran tubuh atau body habitus yang ideal, besera beberapa sampling proyeksi Radiografi secara umum.

Tabel di bawah menggambarkan efek-efek yang terjadi ketika menggunakan kVp berbeda dan membandingkan dosis radiasi antara proyeksi Antero Posterior (AP) dan Postero Anterior (PA). Tabel ini juga menunjukkan efek dari penggunaan Gonad Shield terhadap total dosis efektif untuk wanita dan pria.

(Dosis SEE Pasien, Bontrager 2001)

(Dosis SEE Pasien, Bontrager 2003)

Tabel ini menunjukkan bahwa untuk pria, ED yang paling tertinggi utuk sampling pemeriksaan secara umum adalah poin #16, Pemeriksaan Hip Joint dengan menggunakan proyeksi AP tanpa menggunakan Gonad Shield. (ED= 84 mRem). Dosis ini merupakan dosis terbesar yang diterima testis, yang sesungguhnya dapat diturunkan secara drastis dengan menggunakan Gonad Shield (ED diturunkan 14 mRem)

Untuk wanita, ED yang paling tertinggi adalah poin #4, pada pemeriksaan CV.Thorachal dengan menggunakan Image Receptor 35 x 43 cm tanpa menggunakan Breast Shield (ED = 63). Dosis ini merupakan dosis yang tinggi yang diterima payudara, dan dapat diturunkankan dengan menggunakan Breast Shield atau dengan pengaturan pada luas kolimator, sebesar 18 x 43 cm. Hasil pengukuran dosis efektif yang diterima payudara apabila dengan penggunaan perisai atau pengaturan kolimator adalah sebesar 35 mRem.

Dengan membaca dan mengamati data yang disajikan pada tabel, kita dapat menilai bahwa penggunaan perisai radiasi untuk organ-organ sensitif dapat mengurangi dosis efektif cukup drastis, sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya kanker atau bahkan kerusakaan genetic akibat radiasi.

Daftar Pustaka

Bontrager, Kenneth. L, 2003, Text Book Of Radiographic Positioning And Related Anatomy, Fifth Edition, The Mosby, St. Louis

Oleh : Richard Geise, Ph.D.

Diterjemahkan dan ditulis kembali secara ringkas oleh : Aga Aulia Putra

Sebagai seorang professional, Radiografer memiliki tanggung jawab yang penting untuk melindungi pasiennya, diri sendiri dan sesama pekerja lainnya dari bahaya radiasi. Radiografer memiliki tugas untuk selalu memastikan bahwa dosis radiasi yang diterima pasien, dirinya sendiri dan sesama pekerja selalu rendah.

SATUAN RADIASI

SATUAN RADIASI EKSPOSURE-ROENTGEN (R)

Roentgen merupakan ukuran dari Eksposi Radiasi di Udara, diukur dari jumlah ionisasi di udara.

SATUAN DOSIS RADIASI-RAD DAN REM

Rad dan Rem merupakan satuan dosis (ionisasi di dalam jaringan, juga dideskripsikan sebagai energi yang diserap oleh jaringan). Dalam Radiologi Diagnostik dengan menggunakan energi Sinar-X, tiga satuan radiasi dapat dipertimbangkan ekuivalen (1R=1Rad=1Rem). Rads utamanya digunakan untuk dosis yang diterima pasien, dan Rem digunakan untuk tujuan proteksi radiasi, sebagai contoh, satuan Rem digunakan pada laporan dosis pekerja radiasi oleh film badge.

Satuan Tradisional dan Satuan Internasional. Satuan Internasional, yang juga juga dikenal sebagai sistem metric merupakan standar nasional untuk satuan dari pengukuran radiasi sejak 1958. Meskipun begitu, hanya Amerika Serikat merupakan Negara yang sangat lambat dalam melakukan konversi satuan pengukuran radiasi menjadi satuan sistem metric, satuan konvensional dari pengukuran radiasi seperti rontgen, rad dan rem masih sering digunakan di Amerika Serikat.

Tabel Ringkasan

 Tabel Konversi-Satuan Tradisional ke Satuan Internasional

Satuan Tradisional Satuan Internasional Konversi Perkalian
Roentgen (R) C/kg(Coloumbs/kg udara) 2.58 x 10-4 (0.000258)
Rad (dosis serap radiasi) Gray (Gy) 10-2(.01)(1 rad = 0.01 Gy)
Rem (dosis ekuivalen) Seivert (Sv) 10-2(.01)(1 rem = 0.01Sv)
(1 mrad = 10-2 atau .01 mGy, dan 1 mGy = 100 mrad)Batas dosis diberikan dalam rem (Seivert, Sv)(1 rem = 0.01 Sv atau 10 mSv dan 1 mSv = 0.1 rem

Lanjut Baca »

Pendahuluan

Pemeriksaan radiografi pada abdomen dan cavum pelvis dilkakukan untuk beberapa alasan, antara lain :

Gambaran Patologi Ileus pada Foto Abdomen

Gambaran Patologi Ileus pada Foto Abdomen

  • Obstruksi atau sumbatan pada usus besar
  • Perforasi
  • Renal Pathology
  • Acute Abdomen (dengan diagnosis klinis yang tak jelas)
  • Melokalisasi benda asing
  • Toxic Megacolon
  • Aneurisma Aorta
  • Untuk mengawali pemeriksaan radiografi yang menggunakan media kontras,seperti Intravena Urografi (IVU) untuk menggambarkan apabila terdapat batu ginjal raiopaque atau batu empedu radiopaque pada saat mengawali pemeriksaan usus besar.
  • Untuk mendeteksi calsifikasi atau adanya kumpulan udara abnormal, sebagai contoh abses
  • Pemeriksaan radiografi dengan menggunakan media kontras secara oral dengan menggunakan barium.

Parameter Gambar

Meskipun teknik pemeriksaan radiografi abdomen bergantung terhadap kondisi pasien, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk setiap pemeriksaan abdomen plain dan cavum pelvis. Ketajaman dan kontras gambar yang maksimal diperlukan sehingga batas struktur dari organ-organ soft tissue dapat terlihat jelas.

Pemeriksaan radiografi abdomen pada umumnya dilakukan dengan menggunakan meja pemeriksaan dengan memanfaatkan moving grid. Meskipun begitu, hal ini juga bergantung pada kondisi pasien, pemeriksaan abdomen juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan stationary grid pada pasien yang menggunakan brancar di ruangan atau pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan mobile X-Ray Machine.

Pasien harus benar-benar terfiksasi dan eksposi dilakukan pada saat pasien “tahan nafas” setelah full expiration.

Sebagai gambaran, berikut parameter yang dapat digunakan pada pemeriksaan abdomen, (catatan, kondisi pesawat Sinar-X masing-masing berbeda dan memiliki protokol serta ketentuan dari pabrikan masing-masing) :

Anti Scatter Grid               : R=10 (8); 40/cm

FFD                                        : 115 (100-150)cm

Radiographic Voltage    : 79-90 kVp

Exposure Time                   : Kurang dari 200 ms

Kriteria Anatomi yang Tampak

  • Keseluruhan daerah abdomen tercover, sehingga gambaran diafragma hingga shymphysis pubis dan Lateral Properitoneat fat stripe tampak untuk kasus acute abdomen
  • Visualisasi dari keseluruhan organ-organ saluran kemih (ginjal, ureter dan bladder-KUB)
  • Visualisasi ketajaman gambaran tulang dan interface antara air-filled bowel dengan jaringan-jaringan lunak di sekitarnya dengan tidak adanya overlying artefacts, sebagai contoh: Pakaian pasien.
  • Pada penyakit yang berhubungan dengan adanya batu, perbedaan gambaran antar jaringan memungkinkan untuk memvisualisasikan adanya batu yang berukuran kecil, atau batu dengan opasitas yang rendah.

Proteksi Radiasi yang Dilakukan

  • Untuk pasien yang sedang hamil, hanya boleh dilakukan saat kasus-kasus yang benar-benar gawat
  • Gonad Shielding dapat digunakan, namun apabila pada posisi-posisi tertentu dapat menutupi bagian-bagian penting yang menunjukkan patologi, sebaiknya tidak perlu digunakan.
  • Perencanaan yang baik sebelum prosedur digunakan, dapat mengurangi resiko terjadinya pengulangan foto, sehingga dapat membatasi dosis radiasi yang diterima oleh pasien.

Teknik Pemeriksaan

Pemeriksaan Abdomen Posisi Supine

Untuk memberikan gambaran obstruksi usus, neoplasma, kalsifikasi,asites dan Plain Photo sebelum pemeriksaan dengan menggunakan media kontras

  1. Posisi Pasien dan kaset
  • Pasien supine di atas meja pemeriksaan, dengan Mid Sagital Plane pasien parallel dengan meja pemeriksaan, dengan kedua kaki ekstensi dan beri pengganjal pada bagian bawah lutut, agar lebih nyaman.
  • Kedua lengan diletakkan di samping tubuh. Pelvis diposisikan agar anterior superior iliac spines sama jaraknya terhadap meja pemeriksaan.
  • Kaset dipasang longitudinal/portrait dan diposisikan agar daerah Shimphysis Pubis masuk pada batas bawah film.
  • Pertengahan kaset kira-kira berada pada letak setinggi 1 cm di bawah Krista Iliaka. Hal ini berfungsi untuk memastikan agar Shymphisis Pubis masuk dalam lapangan penyinaran.
  • Pastikan tidak ada rotasi pada bahu dan pelvis.
Posisi Pasien Supine AP

Posisi Pasien Supine AP

  1. Central Ray
  • Central Ray tegak lurus terhadap kaset dan CP setinggi Krista Iliaka.
  • Gunakan pemilihan waktu eksposi yang sesingkat mungkin.
Kriteria Radiograf Posisi AP Supine

Kriteria Radiograf Posisi AP Supine

  1. Catatan
  • Pada pasien yang memiliki abdomen tebal, dapat digunakan Imobilization Band untuk mengkompresi Soft Tissue dan mengurangi efek radiasi hambur.
  • Memastikan marker posisi dan marker anatomi masuk pada daerah lapangan penyinaran.
  • Jika pasien tidak memungkinkan untuk dipindah ke meja pemeriksaan akibat nyeri perut yang berlebih, maka penggunaan Stationary Grid dapat dilakukan. Penggunaan FFD yang tepat juga perlu dilakukan begitu juga dengan CR yang harus tepat pada pertengahan kaset, agar tidak terjadi Cut Off.

 Pemeriksaan Abdomen Posisi Erect (posisi pasien duduk tegak)

  1. Posisi pasien dan posisi kaset
  • Mengaturtur faktor eksposi dan posisi tabung Sinar-X sehingga pengaturan sinar horizontal berada pada ketinggian yang tepat, pasien berada pada posisi siap, kondisi tubuh tegak 90° sehingga tepat berhadapan dengan tabung Sinar-X.
  • Memperhatikan posisi paha, atur pada posisi Abduksi, sehingga Soft Tissue pada paha tidak menutupi seluruh bagian cavum pelvis.
  • Mengatur MSP agar parallel terhadap Stand Bucky,maupun Grid dan kaset.
  • Posisi kaset terpasang secara vertical di belakang punggung pasien, dan memastikan bagian atau batas atas kaset tidak terpasang pada bagian bawah mid-sternum.
Posisi Pasien Duduk Tegak

Posisi Pasien Duduk Tegak

  1. Central Ray
  • Memastikan pengaturan berkas sinar horizontal dan FFD benar-benar tepat
  • Eksposi dilakukan pada saat pasien ekspirasi, setelah eksposi dilakukan, kembalikan pasien pada posisi supine kembali
Kriteria Radiograf Posisi Duduk Tegak

Kriteria Radiograf Posisi Duduk Tegak

  1. Esensi Anatomi
  • Radiograf harus mampu menunjukkan lekuk diafragma untuk memastikan ada atau tidaknya udara bebas pada peritoneal cavity.
  1. Catatan
  • Faktor eksposi menggunakan mA tinggi dan waktu eksposi yang singkat dan meningkatkan nilai kV antara 7-10kVp dari faktor eksposi yang digunakan untuk pemeriksaan abdomen supine.
  • Pada kasus pasien suspek perforasi, pasien harus tetap berada pada posisi erect, idealnya selama 20 menit sebelum dilakukan eksposi, untuk memberi waktu agar udara bebas dapat naik.

 Proyeksi Antero Posterior-Left Lateral Decubitus

Proyeksi ini dilakukan apabila pasien tidak dapat diposisikan secara tegak berdiri ataupun duduk tegak untuk mempejelas ada atau tidaknya udara bebas pada subdiaphragmatic yang terlihat pada proyeksi AP supine. Proyeksi ini juga digunakan untuk memastikan ada atau tidaknya obstruksi.

Dengan posisi pasien berbaring miring kea rah kiri, udara bebas akan naik, dan berada di antara lateral margin dari liver dan dinding lateral abdominal bagian kanan. Untuk member waktu agar udara bebas terkumpul pada daerah tersebut, pasien diposisikan tidur miring ke arah kiri selama 5-20 menit sebelum eksposi dilakukan.

  1. Posisi Paien dan Kaset
  • Pasien tidur miring pada sisi kiri dengan siku dan lengan fleksi, sehingga tangan dapat diletakkan di dekat kepala, kedua lutut fleksi.
  • Kaset yang digunakan berukuran 35 x 43 cm, diposisikan secara tranversal pada Ventrical Bucky atau bila tidak punya, menggunakan grid dan kaset yang dipasang secara vertical di belakang dengan bagian atas kaset cukup untuk menunjukkan bagian atas dari Right Lateral Abdominal dan dinding Thoracic.
  • Sedikit bagian dari paru-paru yang berada di atas diafragma harus masuk pada gambaran
  • Posisi pasien di atur, agar MSP tubuh pasien benar-benar paralael terhadap kaset dan grid (tidak ada rotasi pada bahu mupun pelvis).
Posisi Paien LLD

Posisi Paien LLD

  1. Central Ray
  • Sinar Horizontal langsung tepat menuju aspek anterior pasien dan CP tepat pada 2 inchi di atas Krista Iliaka (agar daerah diafragma masuk pada gambaran), batas atas kaset terletak setinggi axilla.
  • Eksposi dilakukan saat setelah ekspirasi dan tahan nafas.
Kriteria Radiograf Posisi LLD

Kriteria Radiograf Posisi LLD

 

Daftar Pustaka

Bontrager, Kenneth. L, 2003, Text Book Of Radiographic Positioning And Related Anatomy, Fifth Edition, The Mosby, St. Louis

Alsop,C.,W.,Hoadley,G., Moore, A.D.,Sloane,C.,L.,Whitley,A.S. 2005, Clark’s Positioning In Radiography 12th Edition, Oxford University Press, New York.

Pendahuluan

Dalam kegiatan pemeriksaan Radiologi, marker merupakan salah satu komponen penting dalam membuat sebuah radiograf. Marker biasa digunakan untuk menunjukkan “Sisi yang difoto”, menunjukkan posisi objek saat difoto, atau bahkan urutan dan fase-fase pemotretan yang dilakukan.

Marker Gambar dan Identifikasi Pasien

Dalam Radiografi minimal terdapat dua tipe marker atau penanda yang harus tercetak pada radiograf. Dua tipe marker tersebut antara lain (1) Identitas Pasien beserta tanggal pembuatan radiograf (2) Penanda Sisi Anatomi

  1. Marker Identitas Pasien dan Tanggal Pembuatan Radiograf (Pada Sistem Kaset Conventional Film-Screen)

Secara umum, informasi pasien yang dicantumkan adalah nama, tanggal, nomor foto dan nama instansi atau nama rumah sakit. Biasanya marker indetitas dan tanggal ini tersedia pada kartu indeks yang kemudian di “Photoflashed” pada film menggunakan pencetak ID berbasis cahaya lampu. Pada umumnya, untuk marker ini disediakan sedikit tempat pada pojok ujung kaset konvensional yang tertutup oleh “Lead Block” pada film holder. Setiap kaset atau film holder harus memiliki penanda pada bagian luar yang mengindikasikan atau menunjukkan lokasi penempatan marker ID pasien, termasuk tanggal pembuatan radiograf.

Dalam membuat radiograf, bagian kaset yang menunjukkan lokasi penempatan ID pasien juga perlu diperhatikan, agar area tersebut tidak menutupi atau mengganggu esensi anatomi yang akan disajikan.

Lokasi Tempat Penanda ID Pasien

Lokasi Tempat Penanda ID Pasien

Dalam teknik pemberian atau pemasangan teks marker, lokasi pemasangan marker ID pasien juga menunjukkan hubungan terhadap bagian anatomi tubuh pasien yang difoto. Peraturan dasar untuk dada dan abdomen adalah (1) meletakkan informasi ID pasien pada bagian atas margin “Image Receptor” untuk pemeriksaan rongga dada atau “Chests” dan (2) untuk pemeriksaan abdomen informasi ID pasien diletakkan pada bagian bawah “Image Receptor”. Marker atau penanda ini selalu terletak sesuai dengan bagian tubuh atau esensi anatomi yang akan disajikan.

Lokasi Pemasangan Marker sesuai Esensi Anatomi tubuh Pasien (Panah)

Lokasi Pemasangan Marker sesuai Esensi Anatomi tubuh Pasien (Panah)

  1. Marker Sisi Anatomi

Marker Radiopaque, baik Right atau Left harus selalu terpasang pada setiap gambar radiograf, dan mengindikasikan sisi kanan atau kiri tubuh pasien atau bagian ekstrimitas tubuh mana yang difoto, Right atau Left. Pemasangan marker sisi anatomi ini dapat berupa pemasangan kata utuh, yaitu Right atau Left, dan dapat juga dilakukan pemasangan secara inisial “R” atau “L”. Marker sisi anatomi ini biasanya dipasang langsung pada bagian dalam Image Redeptor, atau berada pada “Lateral Portion” dalam lapangan penyinaran. Perlu diperhatikan, pemasangan marker ini juga jangan sampai mengganggu gambaran anatomi tubuh pasien yang disajikan.

Perlu diingat juga, Marker Radiopaque harus diletakkan di dalam lapangan penyinaran, sehingga dapat ikut ter-ekspose oleh berkas Sinar-X dan masuk pada daerah radiograf.

Dua marker tadi, baik marker ID dan Tanggal maupun marker sisi anatomi harus terpasang secara tepat dan benar pada semua gambar radiograf. Secara umum, tidak dibenarkan apabila menuliskan informasi atau marker pada radiograf, setelah proses pengolahan radiograf selesai, karena hal ini akan menyebabkan resiko terjadinya “Missmarkings”. Sebuah Radiograf yang diambil atau dihasilkan tanpa menggunakan dua marker tersebut diatas, memungkinkan dilakukan pengulangan foto, yang hanya akan menambah dosis radiasi yang percuma terhadap pasien.

  1. Marker Tambahan atau Identifikasi

Untuk pemeriksaan khusus, marker tambahan atau identifikasi juga dapat digunakan, seperti contohnya

(1)Inisial Radiografer, secara umum marker ini terpasang, sama seperti pemasangan marker R dan L untuk menunjukkan Radiografer yang membuat radiograf. Terkadang, nomor ruang pemeriksaan juga tercantum.

(2) Indikator Waktu, biasanya sering digunakan untuk mencatat waktu yang telah berlalu pada seri foto pemeriksaan, sebagi contoh : 1 menit, 5 menit, 15 menit dan 20 menit. Foto seri ini biasa dilakukan pada pemeriksaan “Intravenous Urogram” (IVU).

Beberapa Contoh Marker Tambahan yang Biasa Digunakan

Beberapa Contoh Marker Tambahan yang Biasa Digunakan

(3)Marker penting lainnya yang biasa digunakan yaitu pada pemeriksaan radiografi dengan menggunakan posisi decubitus yang berfungsi menunjukkan identifikasi arah sisi atas. Sebuah marker “Upright” atau “Erect” juga harus digunakan untuk mengidentifikasi foto rongga dada maupun foto abdomen yang dibuat dengan posisi tegak. Karena foto dengan posisi tegak ini akan dibandingkan dengan posisi foto “Recumbent” atau foto berbaring. Dan pada kondisi tertentu seperti ini, marker penunjuk arah sisi atas juga terpasang.

(4)Marker berupa tulisan “Inspiration” (INSP) dan “Expiration” (EXP) juga digunakan untuk perbandingan khusus proyeksi PA pada pemeriksaan rongga dada. Marker “Internal” (INT) dan “External” (EXT) juga digunakan untuk menunjukkan arah proyeksi rotasi pada pemeriksaan proximal humerus dan shoulder.

Daftar Pustaka

Bontrager, Kenneth. L, 2003, Text Book Of Radiographic Positioning And Related Anatomy, Fifth Edition, The Mosby, St. Louis

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai